Deskripsi

“Lengkung SPEKTRUM FAJAR SENJA aneka warna KASIH SETIA ALLAH yang mengayomi JEJAK LANGKAH KEHIDUPAN bertanda nama 'BELUM'!"

Kamis, 09 Oktober 2014

Sorot Balik Tentang Kehadiran Buku Kristen Dalam Sastra Indonesia (BPK Gunung Mulia Jakarta 1977) #2


Berkenaan dengan lima catatan yang dikemukakan di atas ini, saya ingin mengomentari tanggapan Korrie Layun Rampan, terkait dengan buku Kristen Dalam Sastra Indonesia, yang terdapat pada halaman 151 – 152 bukunya yang berjudul, Kesusastraan Tanpa Kehadiran Sastra – Himpunan Esai dan Kritik (yayasan arus jakarta, 1984). Tanggapan Korrie Layun Rampan atas buku saya itu, saya peroleh pada tahun 2012 dari sahabat saya, Drs. Yohanes Sehandi, M.Si., dosen bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Flores.

Pertama
Korrie Layun Rampan (untuk selanjutnya akan saya sapa, Korrie) mengatakan begini: “Sebenarnya pokok masalah Kristen dalam Sastra Indonesia ini yang bertolak dari isi ceramah Pater Dick Hartoko: ‘Mengerling Sastra Indonesia dari Sudut Kristen’…”  Pernyataan ini salah. Tema “Kristen Dalam Sastra Indonesia” dipersiapkan dan disodorkan oleh Pengurus Dewan Kesenian Jakarta kepada Dick Hartoko untuk diceramahkan. Tetapi ternyata terhadap tema tersebut Dick Hartoko mengubahnya secara sepihak menjadi,  “Mengerling Sastra Indonesia dari Sudut Kristen”.

Sorot Balik Tentang Kehadiran Buku Kristen Dalam Sastra Indonesia (BPK Gunung Mulia Jakarta 1977) #1


Catatan Pertama
Pada awal tahun 1970 Pengurus Dewan Kesenian Jakarta menyodorkan tema “Kristen Dalam Sastra Indonesia” kepada Dick Hartoko untuk diceramahkan. Tetapi Dick Hartoko kemudian mempresentasikan ceramahnya dengan judul, “Mengerling Sastra Indonesia Dari Sudut Kristen”. Materi ceramah yang disampaikan oleh Dick Hartoko itu kemudian dimuat dalam Majalah KOMUNIKASI  No.13 Tahun I, tanggal 10 Januari 1970, halaman 25 – 27. Dalam edisi majalah itu pula, pada halaman 27 – 28, dimuat opini Satyagraha Hoerip berjudul, “Sastra Kristen Yang Kita Harap-Harapkan”. Dick Hartoko tidak secara tegas menolak kemungkinan adanya karya-karya sastra yang bernafaskan kristiani. Sedangkan Satyagraha Hoerip secara tegas menolak adanya sastra Kristen.