Deskripsi

“Lengkung SPEKTRUM FAJAR SENJA aneka warna KASIH SETIA ALLAH yang mengayomi JEJAK LANGKAH KEHIDUPAN bertanda nama 'BELUM'!"

Jumat, 23 Agustus 2013

SAJAK-SAJAK PUKUAFU


Di pusaran Pukuafu

Di pusaran Pukuafu
seorang ibu muda duduk di buritan perahu.
Di pangkunya terlelap buah hatinya
yang berumur  sembilan bulan.
pelan-pelan dibukanya ransel
lalu dikuluarkannya sekuntum bunga kemboja
yang disiapkan sebelum berlayar.
Sang ibu muda melepaskan bunga itu ke pusaran Pukuafu.
sambil menatap tanpa memejam-mejamkan mata
ke arah bunga yang semakin menjauh.
Aura wajah sang ibu muda berwarna abu-abu
terlihat  bibir mulutnya komat-kamit
 mengucapkan kalimat:
 papa sayang, akan kukenang kau selamanya.
Sementara di haluan
seorang bocah usia enam tahun
menitikkan airmata sambil mengeluh:
papa, mama telah biarkan aku telantar. 

a. g. hadzarmawit netti 
kupang, 2092012

SAJAK-SAJAK BIANGLALA



Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti


1. Kupang (episode I)

Kupang milik kita semua
Tanpa tanya dari mana kaudatang
Apa tujuanmu
Kupang rumah kita semua
Mutlak dibenahi tanpa alasan
Itu bukan urusan beta
Kupang bukan cuma tempat cari makan
Lantas ditinggalkan setelah berak
Di sana sini.

                                           (coretan 1986)

PERTANGGUNGJAWABAN ATAS PENGUTIPAN PUISI RATAPAN SEMESTA


Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti

TAHUN 2012 telah berlalu, tetapi bagi saya ada sebuah memori yang mengharuskan saya membuat pertanggungjawaban dalam tahun 2013. Dan memori yang mengharuskan pertanggungjawaban itu tersurat dan tersirat dalam “Ratapan Atas Ratapan Semesta” (FP, 18-12-2012). Ketika membaca artikel berjudul “Ratapan Atas Ratapan Semesta” (FP, 18-12-2012, hlm.10), saya sangat menyesal bahwa puisi “Ratapan Semesta” karya penyair John Dami Mukese yang termuat di Majalah Lintasan WISATA Dinas Pariwista Provinsi NTT, edisi kedua, Maret 1993 itu, ternyata terdapat banyak kesalahan.

“RATAPAN SEMESTA” (Sebuah Refleksi)


Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti

PADA tanggal 12 Desember 2012 tahun ini akan genap dua puluh tahun terjadinya suatu peristiwa teramat tragis di sepenggal dunia bernama Flores. Peristiwa tragis itu ialah gempa berkekuatan 7,5 SR yang terjadi di laut Flores, sebelah utara pulau tersebut, sehingga menimbulkan tsunami setinggi 36 meter yang menyapu permukiman di pesisir pantai Flores. Bencana dahsyat itu terjadi pada tanggal 12 Desember 1992.

BIARIN, TAK SUDI, DAN SURAT KIRIMAN


Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti

DALAM tulisan ini ada tiga sajak penyair Yudhistira Ardi Nugraha yang akan saya bahas. Ketiga sajak itu yakni, “BIARIN”, “TAK SUDI”, dan “LAGU KIRIMAN”. Sajak-sajak ini digolongkan sebagai puisi lugu atau puisi mbeling. Untuk kepentingan pembahasan, saya akan kutip larik-larik sajak yang berjudul “BIARIN” berikut ini.  Larik-larik sajak saya pisahkan dengan garis miring tunggal ( / ),  dan  bait-bait  sajak saya pisahkan dengan garis miring  ganda ( // ).

BEBERAPA CATATAN SEKITAR “PUISI LUGU”


Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti

SEKITAR tahun 1970-an di Indonesia muncul suatu corak puisi yang dinamakan “puisi lugu” [puisi bersahaja]. Ada pula yang menamakannya “puisi mbeling” [puisi ringan yang tujuannya membebaskan rasa tertekan, gelisah, dan tegang], “puisi awam” [puisi biasa, tidak istimewa], atau “puisi populer” [puisi yang mudah dipahami orang banyak], “puisi picisan” [puisi bermutu rendah]. Muncul dan berkembangnya puisi lugu pada tahun-tahun tersebut sempat menimbulkan sikap/penilaian pro dan kontra, baik dikalangan penyair sendiri maupun di kalangan penikmat sastra dan kritikus sastra.

PELUKISAN DAN PENALARAN DALAM SAJAK “RUMAH KELABU”


Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti

            DALAM buku Bimbingan Apresiasi Puisi (1974:139-142), Effendi tidak saja membahas tentang pelukisan dan penalaran dalam sajak “Karangan Bunga” dan “Setasiun Tugu” (baca: FP, Jumat, 19-10-2012; dan FP, Senin, 29-10-2012), melainkan Effendi membahas juga sajak “Rumah Kelabu” karya W. S. Rendra. Berikut ini larik-larik sajak “Rumah Kelabu” saya kutip seutuhnya untuk dicermati/dianalisis, sekaligus diinterpretasi/dikomentari.

PELUKISAN DAN PENALARAN DALAM SAJAK “SETASIUN TUGU”


Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti

DALAM  buku Bimbingan Apresiasi Puisi (1974;139-142), Drs. S. Effendi membahas pula tentang “pelukisan dan penalaran” dalam sajak “Setasiun Tugu” karya Taufiq Ismail. Untuk mencermati apakah pembahasan Effendi memuaskan atau tidak, di bawah ini saya kutip sajak “Setasiun Tugu” seutuhnya. Pemisahan larik-larik sajak ditandai dengan garis miring tunggal ( / ) sedangkan pemisahan bait-bait sajak ditandai dengan garis miring ganda ( // ). Beginilah bunyi larik-larik sajak “Setasiun Tugu”

PELUKISAN DAN PENALARAN DALAM SAJAK “KARANGAN BUNGA”


Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti


Pertama- tama saya ucapkan terima kasih banyak kepada redaksi Flores Pos yang telah menerbitkan tiga tulisan saya, masing-masing berjudul: “Menumbuhkan Minat Sastra Masyarakat NTT” (FP, Kamis, 20 September 2012); “Sastra dan Kritik Sastra” (FP, Kamis, 27 September 2012); serta “Kritik Sastra dan Aliran Pukuafu” (FP, Jumat, 5 Oktober 2012). Dengan telah diterbitkannya tiga tulisan sederhana tentang sastra, kritik sastra, dan aliran Pukuafu, yaitu nama aliran kritik sastra versi kritikus sastra A. G. Hadzarmawit Netti, maka dalam tulisan kali ini saya sajikan sebuah telaah sastra berjudul, “Pelukisan dan penalaran dalam sajak ‘Karangan Bunga’”. Dan pada kesempatan berikutnya, ada dua sajak lagi yang akan saya telaah, yaitu sajak “Setasiun Tugu”, karya Taufiq Ismail, dan sajak “Rumah Kelabu”, karya W. S. Rendra.

KRITIK SASTRA & ALIRAN PUKUAFU


Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti



Pertama, Kritik Sastra 

Kritik sastra merupakan salah satu bidang studi sastra di samping teori sastra, dan sejarah sastra. Kritik sastra merupakan studi sastra yang langsung berhubungan dengan sastra, dan secara langsung membahas karya sastra dengan penekanan pada penilaiannya. Menurut H.B. Jassin (1977:95), kritik sastra ialah pertimbangan baik atau buruk sesuatu hasil karya sastra, penerangan, dan penghakiman karya sastra.