Deskripsi

“Lengkung SPEKTRUM FAJAR SENJA aneka warna KASIH SETIA ALLAH yang mengayomi JEJAK LANGKAH KEHIDUPAN bertanda nama 'BELUM'!"
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Februari 2018

Tentang Mukjizat Dan Pengalaman Spiritual: Tanggapan Terhadap Ioanes Rakhmat Bagian III Beta




Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti


Catatan pengantar
Tanggapan bagian ketiga beta merupakan bagian tak terpisahkan dari tanggapan bagian ketiga alfa, yaitu tentang “Mukjizat dan Pengalaman Spiritual” yang tidak diakui dan/atau disangkal oleh Ioanes Rakhmat. Berikut ini saya akan kisahkan beberapa realitas faktual yang saya alami, yang tak terpisahkan dari apa yang disebut mukjizat, miracle, yang benar-benar ajaib, marvelous.

Pertama, pada bulan Juli 1961, di Kuanino, Kupang, ayah saya, Hanok Netti meninggal dunia. Kakak saya, Albinus Lodewyk Netti ketika itu sedang kuliah di STT Jakarta, dan saya baru naik kelas dua pada SMA Negeri Kupang. Ketika ayah  meninggal, saya tidak berada di rumah, karena sedang berkunjung ke rumah teman di Naikoten, yang berjarak sekitar dua kilometer dari rumah saya. Kedua orang adik saya, Gretta dan Steven, mencari saya ke beberapa rumah teman untuk memberitahukan tentang kematian ayah, namun tidak berhasil menemukan saya; dan akhirnya, berdasarkan informasi dari salah seorang teman, sekitar jam 19.00 malam barulah keduanya dapat bertemu dengan saya di Naikoten. Dalam keadaan terisak-isak keduanya memberitahukan kepada saya bahwa ayah telah meninggal dunia pada sekitar jam 16.00 petang. Saya bergegas kembali ke rumah bersama Gretta dan Steven. Ketika tiba di rumah, banyak tetangga telah melayat. Ada beberapa pemuda dan bapa-bapa yang mulai mempersiapkan bahan untuk mendirikan tenda duka di halaman depan rumah. Saya segera masuk ke kamar di mana ayah terbujur diam tak bernyawa. Ibu duduk di sebuah kursi di samping tempat tidur di mana tubuh ayah terbujur. Beberapa keluarga dan tetangga juga ada di situ. Ibu menitikkan air mata kesedihannya ketika melihat saya masuk ke kamar. 

Kamis, 22 Februari 2018

Tentang Mukjizat Dan Pengalaman Spiritual: Tanggapan Terhadap Ioanes Rakhmat Bagian Ketiga Alfa




Oleh: A.G. Hadzarmawit Netti


Catatan pengantar
Tentang mukjizat dalam kitab-kitab suci, Ioanes Rakhmat mengatakan sebagai berikut: “Semua kisah mukjizat dalam kitab-kitab suci adalah kisah-kisah imajiner yang disusun post actum atau post eventum, disusun jauh sesudah fakta atau kejadian yang sebenarnya yang tidak sensasional, dengan tujuan-tujuan apologetik keagamaan atau tujuan-tujuan propaganda politis keagamaan, bukan tujuan-tujuan melapurkan fakta-fakta sejarah apa adanya (2013:44). “Jadi, kalau bagi para penulis kitab-kitab suci kuno suatu mukjizat adalah sebuah realitas faktual (tentu saja, realitas faktual yang ada hanya dalam imajinasi subjektif mereka!) yang terjadi karena Allah bebas melakukannya kendatipun sang Allah ini harus melanggar hukum-hukum alam yang sudah ditetapkannya, maka bagi kita yang hidup dalam zaman di mana sains modern menjelaskan segala sesuatu yang terdapat dalam dunia material, kisah-kisah tentang mukjizat dalam kitab-kitab suci adalah fiksi. The story world kisah-kisah ini fiktif, meskipun kisah-kisah ini dikarang untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan historis kontekstual si pengarangnya dan komunitas keagamaannya pada zamannya di tempatnya sendiri” (2013:45). Dan pada halaman 47 buku tersebut, Ioanes Rakhmat membuat simpulan: “Jadi, menurut hukum-hukum sains, mukjizat sama sekali tak dimungkinkan terjadi.”

Selasa, 01 September 2015

Vibrasi Krisis Belum Berakhir

Ilustrasi: http://inhusatu.com

Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti

Catatan pendahuluan
Ketika bangsa Indonesia hendak merayakan “tahun emas” kemerdekaan pada 17 Agustus 1995, Buletin Akademi Leimena Jakarta Vol.1/Th I, edisi Juli 1995 bertema, “Nasionalisme Memasuki Milenium Ketiga” memuat artikel saya berjudul “Presensi dan Doa Bagi Negeri Berwajah Cerah”. Artikel itu diterbitkan bersama-sama dengan artikel-artikel yang ditulis oleh Siswono Yudohusodo, Laksamana Madya TNI A. Hartono, Prof. Dr. Midian Sirait,  John Pieris, SH., MS, dan Dr. Phil. J. Garang. Inilah enam orang Indonesia yang pertama kali merenungkan “Nasionalisme (Indonesia) memasuki milenium ketiga”, masing-masing menurut kepakarannya,  ketika bangsa Indonesia hendak merayakan “tahun emas” kemerdekaan pada 17 Agustus 1995.

Kamis, 04 Agustus 2011

EKONOMI KERAKYATAN

(Sebuah percakapan dengan Drs. H. E. Lay via telepon)

ADA pengamat yang berpendapat bahwa ekonomi kerakyatan bukan suatu sistem ekonomi yang merupakan bagian dari mainstream economics. Dikatakan pula bahwa ide ekonomi kerakyatan memang khas Indonesia, merupakan bagian dari pemikiran politik ekonomi Moh. Hatta; jadi bukan pemikiran ekonomi murni sebagaimana layaknya pemikiran ekonomi dalam mainstream economics. Basis pemikiran ekonomi kerakyatan berasal dari gagasan Moh. Hatta tentang “demokrasi ekonomi”. Ketika Sukarno lebih menonjolkan demokrasi politik, Hatta tergerak untuk memberi keseimbangan dengan menampilkan gagasan demokrasi ekonomi, yaitu suatu praktik ekonomi yang memberi tempat pada aspek pemerataan. Gagasan utamanya adalah membangun ekonomi berdasarkan kekuatan rakyat dan untuk kemakmuran rakyat sebesar-besarnya…” (Frits O. Fanggidae. “Jangan Terkecoh Ekonomi Neolib dan Kerakyatan”, Timor Express, Senin, 1 Juni 2009, hlm.4).