Deskripsi

“Lengkung SPEKTRUM FAJAR SENJA aneka warna KASIH SETIA ALLAH yang mengayomi JEJAK LANGKAH KEHIDUPAN bertanda nama 'BELUM'!"

Senin, 31 Desember 2018

TAHUN BERPACU LEWAT (Memasuki gerbang kurun waktu 2019 – 2024)



Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti

MANUSIA dan waktu tak terpisahkan. Manusia berada dalam waktu, terkurung dalam waktu, namun serentak mengatasi waktu dan sadar akan waktu, sehingga manusia dapat bermenung tentang waktu. Itulah kelebihan manusia jika dibandingkan dengan binatang.

Pada umumnya manusia melakukan pembabakan waktu atas dua fase, yaitu waktu yang lalu dan waktu yang akan datang. Waktu yang lalu benar-benar telah berlalu, sedangkan waktu yang akan datang masih terbentang di muka. Karena itu sadar akan waktu berarti sadar akan waktu yang sudah lalu dan sadar akan waktu yang akan datang. Kedua fase waktu ini masuk ke dalam kesadaran manusia, karena manusia mempunyai prinsip yang mempersatukan waktu yang sudah lalu dan waktu yang akan datang dalam suatu perpaduan dalam momen yang disebut saat sekarang.

Rabu, 05 Desember 2018

Marginalia: Meng-hari-ini-kan Injil di bumi Pancasila Bergereja dalam Cita Rasa Indonesia


(Bagian kedua)

Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti


Catatan pendahuluan
Dalam Marginalia bagian kedua tentang buku  MENG-HARI-INI-KAN INJIL DI BUMI PANCASILA—Bergereja dengan Cita Rasa Indonesia, karya Ebenhaizer Nuban Timo (selanjutnya saya sapa Nuban Timo), saya akan  menyoroti tafsiran Nuban Timo atas Yohanes 21:1-14, yang terdapat dalam halaman 59-60 buku tersebut, khususnya ayat 10-11.  “Kata Yesus kepada mereka: ‘Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu’. Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak.”