Deskripsi

“Lengkung SPEKTRUM FAJAR SENJA aneka warna KASIH SETIA ALLAH yang mengayomi JEJAK LANGKAH KEHIDUPAN bertanda nama 'BELUM'!"

Kamis, 29 Maret 2018

Kebangkitan Vibrasi Kepeloporan Soeharto Di Pentas Politik Nasional Indonesia


Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti

 
Tommy Soeharto (image: jawapos)

Catatan pengantar
Dalam buku saya berjudul, Vibrasi Sejarah Pergerakan Kemerdekaan dan Vibrasi Eksistensi Bangsa Indonesia (B You Publishing Surabaya 2010) telah saya analisis vibrasi kepeloporan enam Presiden RI dan satu wakil Presiden, yaitu: vibrasi kepeloporan Presiden Soekarno, vibrasi kepeloporan Wakil Presiden Mohammad Hatta, vibrasi kepeloporan Presiden Soeharto, vibrasi kepeloporan Presiden B. J. Habibie, vibrasi kepeloporan Presiden Abdurrahman Wahid, vibrasi kepeloporan Presiden Megawati Soekarnoputri, dan vibrasi kepeloporan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Vibrasi kepeloporan Presiden Joko Widodo belum dibukukan, tetapi sudah dipublikasikan di blog www.bianglalahayyom.blogspot.co.id  edisi 03 Juli 2014.

Jumat, 16 Maret 2018

Dinamika Vibrasi Politik Tahun 2018 -- 2019



 (Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti)

Catatan pendahuluan
Berkenaan dengan judul tulisan ini, “Dinamika Vibrasi Politik Tahun  2018 – 2019”, saya ingin mengutip kembali pokok-pokok penting yang telah saya kemukakan di blog ini dalam tulisan tertanggal: Kamis, 01 September 2016.

Pertama, Vibrasi kepeloporan Presiden Joko Widodo dan vibrasi kepeloporan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam kurun waktu 2016 sampai tahun 2019 tetap seirama demi kepentingan rakyat, bangsa dan negara.

Kedua, Vibrasi kepeloporan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kala dalam kurun waktu 2016 – 2018, skor vibrasinya = 80/90 dengan simbol vibrasi [↗] yang menunjukkan kecenderungan positif; dan dalam tahun 2019—khusus untuk vibrasi kepeloporan Presiden Joko Widodo—skor  vibrasi kepeloporannya = 90/100 dengan simbol vibrasi [↗].

Rabu, 14 Maret 2018

Sekali lagi tentang Vibrasi Kepeloporan Joko Widodo dan Prabowo Subianto



Sebagai Calon Presiden RI Masa Bakti 2019 – 2024 

(Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti)



VIBRASI KEPELOPORAN Joko Widodo dan Prabowo Subianto  telah saya analisis pada tahun 2014 yang lalu berdasarkan teori vibrasi yang saya kembangkan, ketika kedua tokoh bangsa ini maju sebagai calon Presiden RI pada tahun 2014. Hasil analisisnya telah dimuat di blog ini: www.bianglalahayyom.blogspot.co.id  edisi Kamis, 03 Juli 2014, enam hari sebelum pemilihan Presiden dilakukan pada 9 Juli 2014. Itulah sebabnya tulisan ini saya beri judul, “Sekali lagi tentang Vibrasi Kepeloporan Joko Widodo dan Prabowo Subianto sebagai Calon Presiden RI Masa Bakti 2019 – 2024”, karena nama kedua tokoh bangsa ini paling dominan disebut-sebut dalam pemberitaan media cetak maupun media elektronik.

Senin, 12 Maret 2018

Ris Therik, Virga Belan, Dan Gerson Poyk



(Tiga Sastrawan Pemula asal Daerah NTT)


Oleh: A.G. Hadzarmawit Netti




Catatan pendahuluan
Ris Therik, Virga Belan dan Gerson Poyk adalah  tiga sastrawan asal daerah Nusa Tenggara Timur yang tampil di pentas sastra Indonesia di Jakarta pada kurun waktu yang sama, yaitu tahun 1961 – 1964. Sebelum terkenal sebagai sastrawan, mereka berkecimpung di bidang jurnalistik, sebagai wartawan; kecuali Gerson Poyk yang sebelumnya sebagai guru, kemudian menjadi wartawan, setelah itu sastrawan. Mengenai Gerson Poyk, jejak langkah kesastrawanannya telah direkam oleh Yohanes Sehandi dalam buku, Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT (2012) dan Sastra Indonesia Warna Daerah NTT (2015). Dengan demikian, dalam tulisan ini jejak langkah kesastrawanan Ris Therik dan Virga Belan lebih banyak ditinjau, sedangkan berkenaan  Gerson Poyk, saya akan berikan beberapa catatan tambahan saja.

Minggu, 11 Maret 2018

Krawang-Bekasi




Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti



Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
Terbayang kami maju dan berdegup hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa

Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti
                                                          4—5 ribu nyawa
Kami Cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan,
                                               kemenangan dan harapan
Atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskanlah jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir

Kami sekarang mayat
Berilah kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi.

                                (1948)

Sabtu, 10 Maret 2018

Persetujuan Dengan Bung Karno



Soekarno


Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti



JUDUL tulisan ini adalah judul salah satu sajak karya penyair Chairil Anwar, “Persetujuan dengan Bung Karno”, yang larik-lariknya berbunyi sebagai berikut: “Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji/ Aku sudah cukup lama dengar bicaramu, dipanggang atas apimu/ digarami oleh lautmu// Dari mula 17 Agustus 1945/ Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu/ Aku sekarang api aku sekarang laut// Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat/ Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar/ Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh”. (H. B. Jassin. Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45, Jakarta 1978:74).

Jumat, 09 Maret 2018

Watak Manusia Otonom Dan Keberagamaan Chairil Anwar



Chairil Anwar


Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti

Bagian pertama
MANUSIA berwatak manusia otonom adalah manusia yang bebas berusaha untuk mengembangkan diri seluas-luasnya dan setinggi-tingginya. Manusia yang berwatak manusia otonom bercita-cita untuk menjadi seorang yang berkepribadian, dan sekiranya mungkin, ia ingin menjadi seorang yang unggul dalam segala lapangan kebudayaan, atau setidak-tidaknya unggul dalam salah satu lapangan kebudayaan tertentu.

Ciri-ciri manusia yang berwatak otonom antara lain manusia itu harus mencari jalannya sendiri dan menentukan sendiri pedoman yang hendak diterapkannya. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa manusia berwatak otonom itu adalah manusia jalang. Keotonoman manusia berwatak otonom tidak berarti bahwa manusia berwatak otonom itu hidup tanpa pedoman, melainkan manusia berwatak otonom itu tidak menerima pedoman hidupnya dari instansi di atas atau di luar manusia berwatak otonom itu sendiri. Pedoman yang diakui manusia yang berwatak otonom yaitu nilai-nilai yang diciptakannya sendiri untuk diterapkan dalam hidupnya. Nilai-nilai itu disebut nilai-nilai kemanusiaan.

Kamis, 08 Maret 2018

Alih Mandat Wali Kota Di Terminal Kota Kupang


Jonas Salean


Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti

MANUSIA dan waktu sesungguhnya tak terpisahkan. Manusia berada dan memberada dalam waktu, terkurung dalam waktu namun serentak mengatasi waktu, sehingga manusia dapat bermenung tentang waktu. Manusia dapat bermenung tentang waktu karena manusia sadar akan waktu. Ini berarti, manusia dapat menghayati waktu dalam berbagai dimensi. Pertama, waktu kosmis, yaitu waktu yang dihayati manusia berhubungan dengan gejala-gejala alam: pergantian hari, minggu, bulan, tahun dan sebagainya. Kedua, waktu kesejarahan, yaitu penghayatan waktu yang merentang antara apa yang sudah di masa lampau, apa yang sedang di masa kini, sampai dengan apa yang kelak di waktu akan datang. Ketiga, waktu sebagai penghayatan eksistensial yang di dalamnya manusia mengalami dirinya sebagai ada yang terus-menerus mengada di tengah-tengah waktu kosmis dan waktu kesejarahan.

Rabu, 07 Maret 2018

Tekun Membaca Dan Menulis




(sebuah kesaksian faktual)

Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti


Pada 9 Oktober 2017 saya genap berusia 77 tahun. Itu berdasarkan data tahun kelahiran 1940 yang tertulis dalam Surat Baptisan.  Sedangkan dalam Ijazah Sekolah formal yang saya tempuh, hanya sampai SMA Negeri, tahun 1941 tercatat sebagai tahun kelahiran saya.  Jadi, menurut  Ijazah, pada 9 Oktober 2017 saya genap berusia 76 tahun. Pada usia  tujuh puluh enam tahun menurut Ijazah, atau tujuh puluh tujuh tahun menurut Surat Baptisan saat artikel ini ditulis, saya masih tekun membaca dan menulis. Tiada hari, siang maupun malam, tanpa membaca dan menulis. Malahan pada  waktu malam, aktivitas membaca dan/atau menulis sangat tinggi, dan biasanya saya baru tidur setelah lewat jam tiga dini hari.  

Selasa, 06 Maret 2018

“16 Juni, Hari Sastra NTT”




A. G. Hadzarmawit Netti
Kritikus Sastra Aliran Pukuafu
 

Catatan pengantar
            SALAH SATU Keputusan Temu II Sastrawan NTT yang dibacakan Dr. Yoseph Yapi Taum pada acara penutupan       Temu II Sastrawan NTT di Pantai Ria, Ende-Flores, pada Sabtu malam tanggal 10 Oktober 2015 yaitu: 16 Juni ditetapkan sebagai “Hari Sastra NTT”, sesuai tanggal dan bulan kelahiran Sastrawan Gerson Poyk [orang NTT]. Siapakah itu sastrawan Gerson Poyk (almarhum)? Bacalah buku, Sastra Indonesia Warna Daerah NTT karya Yohanes Sehandi [pemeduli Sastra Indonesia Warna Daerah NTT, dan pemeduli sastrawan Indonesia orang NTT]. Bacalah juga artikel saya berjudul, “Begawan Sastra Gerson Poyk dan Sastrawan Potensial asal daerah NTT” (www.bianglalahayyom.blogspot.co.id) edisi Rabu, 01 Maret 2017. Berkenaan dengan “16 JUNI HARI SASTRA NTT” tahun 2017, artikel ini saya buat: in memoriam Gerson Poyk: ҉ 16 Juni 1931 --- ҈ 24 Februari 2017.

Senin, 05 Maret 2018

Roti dan Anggur dalam Perjamuan Kudus: Tanggapan atas opini Dr. Eben Nuban Timo

 
Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti

Catatan pendahuluan
Pada hari Kamis, 6 April 2017, jam 03:45 dini hari, saya baca di situs web SINODE GMIT sebuah artikel berjudul, “Tak ada Roti dan Anggur di Perjamuan Kudus” yang ditulis oleh Pendeta Dr. Eben Nuban Timo (selanjutnya akan saya sapa, Nuban Timo). Artikel Nuban Timo tersebut luput dari perhatian saya, karena saya hanya menyinggahi situs web SINODE GMIT pada 14 Maret 2017 untuk membaca artikel “Bolehkah Nira dan Marungga ganti Roti dan Anggur dalam Perjamuan Kudus?” Tanggapan terhadap artikel ini dengan judul, “Roti dan Anggur Diganti Dengan Marungga Rebus dan Nira Lontar dalam Ibadah Perjamuan Kudus—Suatu Pelecehan Terhadap Kekudusan Ibadah Perjamuan Kudus” (www.bianglalahayyom.blogspot.co.id Sabtu, 18 Maret 2017).

Minggu, 04 Maret 2018

Roti Dan Anggur Diganti Dengan Marungga Rebus Dan Nira Lontar Dalam Ibadah Perjamuan Kudus



suatu pelecehan terhadap kekudusan
 Ibadah Perjamuan Kudus


Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti


Catatan Pendahuluan
PERJAMUAN KUDUS bukanlah ketetapan yang dibuat oleh manusia, melainkan ketetapan yang dibuat dan diperintahkan oleh Tuhan Yesus sendiri. Hal ini dapat kita baca dalam Injil Matius 26:26-29; Markus 14:22-25; Lukas 22:14-20; dan 1 Korintus 11:23-25. Apabila kita membaca ayat-ayat Injil yang disebutkan ini, kita akan menemukan perbedaan-perbedaan di sana-sini. Namun demikian, semuanya menyaksikan satu hal yang penting dan menentukan, yaitu: perintah Tuhan Yesus supaya merayakan Perjamuan Kudus sebagai suatu peringatan akan Dia (Lukas 22:19; 1 Korintus 11:23-25).

Sabtu, 03 Maret 2018

Vibrasi Tahun Kelahiran Dan Tahun Kematian




Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti


Catatan pendahuluan
Lahir dan mati merupakan dua faset dalam kehidupan. Pengkhotbah 3:2 berbunyi: “Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk mati”. Ayat ini memberi petunjuk bahwa vibrasi waktu untuk lahir bersangkut paut dengan vibrasi waktu untuk mati. Berkenaan dengan vibrasi waktu untuk lahir, penulis kitab Mazmur menyatakan keinsafannya yang terdalam akan kemahakuasaan TUHAN sehubungan dengan jalan hidupnya sebagai manusia sejak ia terbentuk dalam kandungan ibunya, sebagaimana terbaca dalam Mazmur 139:13-15: “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku, …mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya”. Dengan demikian, selagi masih bakal anak di dalam kandungan ibu, vibrasi untuk mati telah tertulis juga dalam kitab TUHAN sebagai hari-hari yang akan dibentuk dalam jalan hidup dan yang akan dialami setiap manusia. Ya, jalan kehidupan dan jalan kematian setiap manusia telah tertenun bersamanya dalam kandungan ibunya.

Jumat, 02 Maret 2018

Begawan Sastra Gerson Poyk Dan Sastrawan Potensial Asal Daerah NTT




(Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti)


“in memoriam Gerson Poyk: ҉ 16 Juni 1931 -- ҈ 24 Februari 2017”

Catatan pengantar
Pada hari Minggu, 19 Februari 2017, ketika sedang mengikuti kebaktian di gedung kebaktian Jemaat Gunung Sinai Naikolan, Kupang, saat doa persembahan jemaat, saya memperoleh tanda bahwa akan ada orang terkemuka yang meninggal dunia. Biasanya, apabila saya memperoleh tanda seperti itu, berselang beberapa hari kemudian akan ada berita kematian orang terkemuka yang saya dengar. Dan ternyata benar. Pada hari Jumat, 24 Februari 2017 siang, anak saya, Pietro memberitahukan kepada saya bahwa sastrawan Gerson Poyk telah meninggal dunia di RS Hermina Depok, Jakarta. Jasadnya akan dibawa ke Kupang untuk dikuburkan. Mendadak sontak saya teringat ayat ini: “dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh [kehidupan] kembali kepada Allah yang mengaruniakannya” (Pengkhotbah 12:7).

Kamis, 01 Maret 2018

Sekadar Bertanya




(Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti)


Judul tulisan ini saya angkat dari judul sajak karya Hans Ch. Louk yang diturunkan dalam Tajuk Harian Independen NTT Ekspres edisi Sabtu, 23 Desember 2000. Sajak tersebut saya angkat untuk dikaji bukan lantaran faktor pencapaian nilai keindahan strukturnya yang memuaskan dan/atau tidak memuaskan, melainkan lantaran faktor nosi dan emosi imajinatifnya yang aktual dan relevan dengan konteks kehidupan kita sebagai bangsa yang hingga kini masih terus dikungkung berbagai kemelut. Apa kata Hans Ch. Louk dalam sajak berjudul Sekadar Bertanya itu?