Deskripsi

“Lengkung SPEKTRUM FAJAR SENJA aneka warna KASIH SETIA ALLAH yang mengayomi JEJAK LANGKAH KEHIDUPAN bertanda nama 'BELUM'!"

Senin, 31 Desember 2018

TAHUN BERPACU LEWAT (Memasuki gerbang kurun waktu 2019 – 2024)



Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti

MANUSIA dan waktu tak terpisahkan. Manusia berada dalam waktu, terkurung dalam waktu, namun serentak mengatasi waktu dan sadar akan waktu, sehingga manusia dapat bermenung tentang waktu. Itulah kelebihan manusia jika dibandingkan dengan binatang.

Pada umumnya manusia melakukan pembabakan waktu atas dua fase, yaitu waktu yang lalu dan waktu yang akan datang. Waktu yang lalu benar-benar telah berlalu, sedangkan waktu yang akan datang masih terbentang di muka. Karena itu sadar akan waktu berarti sadar akan waktu yang sudah lalu dan sadar akan waktu yang akan datang. Kedua fase waktu ini masuk ke dalam kesadaran manusia, karena manusia mempunyai prinsip yang mempersatukan waktu yang sudah lalu dan waktu yang akan datang dalam suatu perpaduan dalam momen yang disebut saat sekarang.

Rabu, 05 Desember 2018

Marginalia: Meng-hari-ini-kan Injil di bumi Pancasila Bergereja dalam Cita Rasa Indonesia


(Bagian kedua)

Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti


Catatan pendahuluan
Dalam Marginalia bagian kedua tentang buku  MENG-HARI-INI-KAN INJIL DI BUMI PANCASILA—Bergereja dengan Cita Rasa Indonesia, karya Ebenhaizer Nuban Timo (selanjutnya saya sapa Nuban Timo), saya akan  menyoroti tafsiran Nuban Timo atas Yohanes 21:1-14, yang terdapat dalam halaman 59-60 buku tersebut, khususnya ayat 10-11.  “Kata Yesus kepada mereka: ‘Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu’. Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak.”

Rabu, 21 November 2018

Marginalia: Meng-hari-ini-kan Injil Di Bumi Pancasila


 Bergereja dengan Cita Rasa Indonesia

(Bagian pertama)

Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti


Catatan pendahuluan
MENG-HARI-INI-KAN INJIL DI BUMI PANCASILA – Bergereja  dengan Cita Rasa Indonesia. Demikianlah judul buku karya Ebenhaizer I. Nuban Timo (selanjutnya dalam tulisan ini saya sapa, Nuban Timo). Buku tersebut diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia Jakarta tahun 2017. Tebal buku: xxxi + 487 halaman, terdiri atas dua jilid; jilid pertama enam bab dan jilid kedua enam belas bab. Pada kulit belakang buku, saya terkesan dengan selayang pandang tentang buku tersebut, khususnya pada kalimat alinea ketiga yang berbunyi: “Buku ini menyodorkan aroma keindonesiaan dari Gereja. Tanpa membuang Calvinisme, Lutheranisme, dan sebagainya—karena semua itu tetap diperlukan sebagai kerangka teoretik—buku ini berupaya merumuskan pemahaman Indonesia tentang Gereja sebagai hasil pergulatan di bumi Pancasila. Dari situ, diharapkan muncul realitas primordial dan nasional bagi eklesiologi khas Indonesia. Kiranya, buku ini bisa menjadi bacaan yang layak didalami bukan hanya para mahasiswa atau dosen teologi, melainkan juga menjadi bahan perenungan bagi para warga Gereja umumnya” (alinea ketiga, pada kulit belakang buku, Ibid.),

Minggu, 30 September 2018

Vibrasi Sejarah Dan Vibrasi Kepeloporan Tokoh Sejarah Dalam Eksistensi Bangsa Indonesia Dari Masa Ke Masa

Gambar: akalmu.com


Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti


Sebagai seorang pionir teori vibrasi sejarah  yang telah menerbitkan buku Vibrasi Sejarah Pergerakan Kemerdekaan dan Vibrasi Eksistensi Bangsa Indonesia (B You Publishing Surabaya 2010); dan sebagai seorang pionir teori vibrasi kepeloporan yang telah mempublikasikan vibrasi kepeloporan sejumlah tokoh yang tampil di pentas politik nasional maupun daerah yang mencalonkan diri sebagai presiden maupun kepala daerah (gubernur, bupati, wali kota serta anggota DPR dan DPRD); saya terpanggil untuk mewedarkan hasil penelitian dan deteksi tentang vibrasi kepeloporan tokoh-tokoh terkemuka bangsa Indonesia di pentas politik dari masa ke masa. 

Minggu, 26 Agustus 2018

Majas Interogasi



Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti


INTEROGASI adalah kata adaptasi atau kata pungutan dari bahasa Inggris, “interrogation”, yang disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Kata “interrogation” dalam bahasa Inggris itu sendiri berasal dari bahasa Latin, interrogare, interrogatum; inter, artinya “di antara” dan rogare, artinya “bertanya”. Dalam bahasa Indonesia, “interogasi” diartikan dengan “hal menanyai (biasanya pada suatu penyelidikan)”, atau “mengajukan pertanyaan dengan harapan memperoleh jawaban secara wajar”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Pusat Bahasa cetakan pertama, edisi ke-4 tahun 2008, “interogasi” diartikan dengan “pertanyaan; pemeriksaan terhadap seseorang melalui pertanyaan lisan yang bersistem”.

Minggu, 19 Agustus 2018

Majas Simile



Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti


DALAM Forum BIBLIKA Jurnal Ilmiah Populer, No.9 – 1999, yang diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia, terdapat tulisan Yonky Karman, M. Th (dosen Perjanjian Lama STT Bandung), berjudul “Puisi Dan Retorika Ibrani” (Ibid. Hlm.18-26). Berkenaan dengan “Gaya Bahasa”, Yonky Karman mengatakan begini: “Bahasa Alkitab bisa harfiah dan bisa juga simbolik. Ini dikarenakan orang Timur suka memakai bahasa simbolik atau gaya bahasa (figure of speech). Dalam gaya bahasa sebuah konsep dipandang dari konsep lain dan dari keduanya ditarik analogi. Efek psikologis dari bahasa simbolik tidak diragukan. Pendengar atau pembaca menjadi lebih terkesan.”  Selanjutnya, Yonky Karman menjelaskan sekitar 13 gaya bahasa: Simile, Metafora, Metonimia, Sinekdoke, Hiperbola, Personifikasi, Ironi, Apostrof, Aposiopese, Eufemisme, Merismus, Pengulangan, dan Permainan Kata (antara lain: Aliterasi, Asonansi, Onomatopi, dan Paronomasia).

Minggu, 12 Agustus 2018

Dari VIBRASI PILKADA Tahun 2018 Ke VIBRASI PILPRES Tahun 2019


  
(Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti)

Pemilihan kepala daerah (pilkada) secara serempak telah selesai  dilaksanakan pada 27 Juni 2018 dan pencoblosan ulang pada sejumlah TPS  di berbagai daerah pun telah dilakukan. Pelaksanaan pemungutan suara berjalan lancar, tidak ada kerusuhan berskala besar, sekalipun terjadi beberapa insiden di beberapa tempat. Sengketa hasil pilkada dari beberapa daerah kabupaten telah diajukan ke Mahkamah Konstitusi dan telah disidangkan. Sebagai seorang pionir teori vibrasi, saya terpanggil untuk mengemukakan opini tentang vibrasi kepeloporan beberapa pasangan calon gubernur dan bupati  yang maju pada pemilihan kepala daerah secara serempak pada 27 Juni 2018. Selain itu, saya juga mengemukakan opini tentang vibrasi kepeloporan calon presiden dan wakil presiden yang akan bersaing pada pemilihan presiden tahun 2019. Vibrasi keamanan dan gangguan keamanan dalam kaitannya dengan terorisme pun tidak luput dari perhatian saya.  Semuanya telah saya kemukakan dalam tulisan berjudul “Dinamika Vibrasi Politik Tahun 2018 – 2019” yang telah dipublikasikan di blog www.bianglalahayyom.blogspot.co.id edisi Jumat, 16 Maret 2018.

Rabu, 30 Mei 2018

Majas Metafora


Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti

 

DALAM Forum BIBLIKA Jurnal Ilmiah Populer, No.9 – 1999, yang diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia, terdapat tulisan Yonky Karman, M. Th (dosen Perjanjian Lama STT Bandung) berjudul, “Puisi Dan Retorika Ibrani” (Ibid., Hlm.18-26). Yonky Karman  menjelaskan majas  metafora sebagai berikut:“Metafora adalah pemakaian kata-kata bukan dengan arti sebenarnya, melainkan sebagai lukisan berdasarkan persamaan. Pada metafora A adalah B. Dalam Kejadian 49:9, dikatakan ‘Yehuda adalah anak singa.’ Terjemahan Baru LAI menambahkan kata ‘seperti’ (‘Yahuda adalah seperi anak singa.’) dan memberi kesan bahwa ini adalah simile, padahal ini adalah metafora.”  Kemudian Yonky Karman  menjelaskan lebih lanjut: “Berikut ini adalah gambaran situasi pemazmur ketika berada dalam bahaya kritis dikelilingi musuh-musuhnya: “Banyak lembu jantan mengerumuni aku, banteng-banteng dari Basan mengepung aku, mereka mengangakan mulutnya terhadap aku, seperti singa yang menerkam dan mengaum (Mazmur 22:13,14).”

Penjelasan Yonky Karman mengenai majas metafora sebagaimana dikutip di atas ini mirip dengan arti leksikal metafora dalam KBBI (2008:908), namun kurang membantu ke arah pemahanan yang baik dan benar terhadap ayat-ayat Alkitab yang dibangun dengan majas metafora. Selain itu, Mazmur 22:12,13 secara utuh sebenarnya bukan dibangun dalam majas metafora, melainkan majas simile. Kalau perhatian kita hanya tertuju pada ayat 13, maka benar, ayat itu dibangun dalam majas metafora. Tetapi oleh karena Mazmur 22:13,14 itu sebenarnya mengungkapkan satu gagasan, maka gagasan dalam kedua ayat itu dibangun dalam majas simile—bukan metafora. Untuk itu, di bawah ini saya akan menjelaskan majas metafora secara lebih luas.

“Metafora” diserap ke dalam bahasa Indonesia dari kata bahasa Inggris “metaphor”, yang berasal dari kataYunani metaphorā (meta, artinya ‘menyeberangkan’ [dari satu sisi ke sisi yang lain] dan phor-e—phorein, artinya ‘membawa’). Majas metafora adalah cara pelukisan yang didasarkan atas persamaan sifat, fungsi, atau keadaan yang terdapat pada dua obyek yang diperbandingkan. Kalau pada majas simile persamaan dari kedua obyek dikemukakan dengan jelas dalam perbandingan, maka dalam majas  metafora sifat dari obyek yang satu dipindahkan pada obyek yang lainnya. Jadi, hanya salah satu obyek saja yang disinggung dalam perbandingan.

Itulah sebabnya, majas metafora disebut juga majas yang potensial majas simile, atau majas metafora menyatakan secara tidak langsung majas simile. J.C. Nesfield dalam bukunya, Manual Of English Grammar And Composition, dalam bab tentang Figures Of Rhetoric, mengatakan: “A metaphor is a potential or implied simile. In a simile both side of the comparison are distinctly stated; whereas in a metaphor one side is stated, but not the other”. Jadi, apabila suatu kalimat yang dibangun dalam majas metafora seperti, “Ia mengekang nafsunya”, maka kalimat ini menyarankan arti: “ …seperti seorang penunggang kuda mengekang kudanya yang resah dan meronta-ronta, demikianlah ia mengekang nafsunya.”

Berdasarkan penjelasan di atas ini, terlihat bahwa Yonky Karman kurang menyadari bahwa majas metafora itu adalah majas yang potensial majas simile, atau majas metafora itu adalah majas yang menyatakan secara tidak langsung majas simile, ketika ia mengatakan bahwa: “Dalam Kejadian 49:9, dikatakan ‘Yehuda adalah anak singa.’ Terjemahan LAI menambahkan kata ‘seperti’ (‘Yehuda adalah seperti anak singa’) dan memberi kesan bahwa ini adalah simile, padahal ini adalah metafora”.

“Yehuda adalah anak singa” (majas metafora), dapat dibaca “Yehuda adalah seperti anak singa”, atau “Yehuda seperti anak singa”, atau “Demikianlah Yehuda adalah seperti anak singa”, atau “Demikianlah Yehuda seperti anak singa”(majas simile), tanpa terjadi perubahan makna. Dengan demikian, “keterangan similatif” (seperti) dalam klausa pertama Kejadian 49:9 terjemahan LAI yang berbunyi Yehuda adalah seperti anak singa” tidak perlu dipersoalkan seolah-olah LAI salah menerjemahkan, karena  ada korelasi dengan klausa selanjutnya  yang dibangun dalam majas simile, yang berbunyi: “ia meniarap dan berbaring seperti singa jantan atau seperti singa betina; siapakah yang berani membangunkannya?” Ada bermacam-macam majas metafora yaitu: metafora umum; metafora personal; metafora yang ditopang metafora; dan metafora yang berdasarkan sejarah, fabel, dan perumpamaan.

Metafora umum

Yang dimaksudkan dengan metafora umum ialah cara pelukisan yang didasarkan atas persamaan sifat, fungsi, atau keadaan yang terdapat pada dua obyek yang diperbandingkan, di mana sifat, fungsi, atau keadaan dari obyek yang satu dipindahkan pada obyek yang lain. Jadi, hanya satu obyek saja yang disinggung dalam perbandingan. Contohnya: (a) “TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub” (Mazmur 46:8). (b) “Terpujilah Engkau, TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku” (Mazmur 3:4). (c)  “ luputkanlah aku dengan pedang-Mu dari pada orang fasik” (Mazmur 17:13. (d) “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?” (Matius 5:13). “Kamu adalah terang dunia” (Matius 5:14). (e)  “Mata adalah pelita tubuh (Matius 6:22). (f)  “Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang” (Matius 10:34). (g) “Barangsiapa tidak memikul salib-nya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Matius 10:38). (h) “Akulah roti yang telah turun dari sorga” (Yohanes 6:41); “Akulah roti hidup” (ayat 48); “Akulah terang dunia” (Yohanes 8:12). (i) “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yohanes 1:29); “Akulah pintu ke domba-domba itu” Yohanes 10:7); “Akulah gembala yang baik” (ayat 11). (j) “Akulah pokok anggur yang benar (Yohanes 15:1); “dan kamulah ranting-rantingnya” (ayat 5).

Metafora personal

Suatu majas metafora disebut metafora personal, apabila majas itu melukiskan benda-benda yang tidak bernyawa seolah-olah benda-benda itu hidup. Majas metafora personal sama dengan majas personifikasi, yang diuraikan di bagian lain. Contoh:

“Aku akan mendengarkan langit, dan langit akan mendengarkan bumi” (Hosea 2:20); “Bumi akan mendengarkan gandum, anggur dan minyak, dan mereka ini akan mendengarkan Yizreel.” (ayat 21).

“di tanah yang kering dan haus akan air” (Yehezkiel 19:13); “Maka keluarlah api dari cabangnya yang memakan habis ranting dan buahnya” (ayat 14).

“Sebab batu berseru-seru dari tembok, dan balok menjawabnya dari rangka rumah” (Habakuk 2:11).

“Bukalah pintu-pintumu, hai Libanon, supaya api dapat memakan pohon-pohon arasmu” (Zakharia 11:1); “Merataplah hai pohon-pohon sanobar, …sebab sudah dirusakkan kebanggaan sungai Yordan” (ayat 2,3); “Hai pedang, bangkitlah terhadap gembala-Ku” (Zakharia 13:7).

“Karena hal ini bumi akan berkabung” (Yesaya 4:28).

“Darah adikmu berteriak kepada-Ku dari tanah” (Kejadian 4:10).

“Juga pohon-pohon sanobar dan pohon-pohon aras di Libanon bersukacita karena kejatuhanmu” (Yesaya 14:8); “Tahu malu hai Sidon, sebab laut, benteng laut, berbicara katanya…” (Yesaya 23:4); “Merataplah”, hai kapal-kapal Tarsis, sebab sudah dirusakkan bentengmu!” (ayat 14).

Metafora yang ditopang metafora

Kemiripan atau persamaan yang dinyatakan oleh suatu majas metafora biasanya dibatasi pada satu sisi. Namun sering kali suatu majas metafora dapat ditopang melalui serangkaian ibarat yang sama atau yang seasal. Contoh:

(a) “Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allah, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku” (Mazmur 18:3); “Tali-tali maut telah melilit aku, dan banjir-banjir jahanam telah menimpa aku, tali-tali dunia orang mati telah membelit aku, perangkap-perangkap maut terpasang di depanku” (ayat 5,6).

(b) “…bukit-bukit berikatpinggangkan sorak-sorai; padang-padang rumput berpakaikan kawanan kambing domba, lembah-lembah berselimutkan gandum, semuanya bersorak-sorai dan bernyanyi-nyanyi” (Mazmur 65:13,14).

(c) “Telah lenyap sukaria dan sorak-sorai dari kebun buah-buahan; telah menghilang dari kebun-kebun anggur tempik sorak dan sorak-sorai” (Yesaya 16:10); “Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorai dan berbunga; seperti bunga mawar ia akan berbunga lebat, akan bersorak-sorak, ya bersorak-sorak dan bersorak-sorai” (Yesaya 35:1,2).

(d) “Sebab pengawal-pengawal umat-Ku adalah orang-orang buta, mereka semua tidak tahu apa-apa; mereka semua adalah anjing-anjing bisu, mereka berbaring melamun dan suka tidur saja; anjing-anjing pelahap, yang tidak tahu kenyang” (Yesaya 56:10,11).

(e) “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara” (Efesus 6:11,12); “Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah…” (ayat 13-17).

(f) “Sudah dekat hari TUHAN yang hebat itu, sudah dekat dan datang dengan cepat sekali! Dengar, hari TUHAN pahit, pahlawan pun akan menangis. Hari kegemasan hari itu, hari kesusahan dan kesulitan, hari kemusnahan dan pemusnahan, hari kegelapan dan kesuraman, hari berawan dan kelam, hari peniupan sangkakala dan pekik tempur…” (Zefanya 1:14-16).

Metafora berdasarkan sejarah, fabel dan perumpamaan

Majas metafora bukan hanya dapat dilukiskan dari kemiripan-kemiripan atau persamaan-persamaan obyek-obyek, melainkan juga dari kemiripan/persamaan situasi/keadaan. Dan ini dapat diambil dari sejarah, atau dongeng tentang binatang (fabel), atau perumpamaan dan peribahasa, atau pepatah.

Metafora berdasarkan sejarah

Salah satu contoh metafora berdasarkan sejarah yang dapat dikemukakan di sini ialah “penafsiran kematian Yesus”. Setelah Jemaat mula-mula mengalami perpecahan (schism) sehingga menjadi dua golongan, yaitu golongan Kristen Yahudi Ibrani dan Kristen Yahudi Hellenis, maka golongan Jemaat Kristen Yahudi Hellenis inilah yang menafsirkan kematian Yesus secara positif (1 Korintus 15:3,4). Karena pengaruh Hikmat Salomo, Jemaat Hellenis menafsirkan kematian Yesus berdasarkan ide tentang korban yang dinyatakan dalam Perjanjian Lama, baik yang berkenaan dengan binatang maupun yang berkenaan dengan Hamba TUHAN yang menderita (terutama dalam Yesaya 53). Berdasarkan penafsiran mereka itu, kematian Yesus dipandang sebagai korban dan tebusan yang menghasilkan kebaikan bagi pihak lain. Paulus menerima penafsiran Jemaat Kristen Yahudi Hellenis.

Metafora berdasarkan fable

Fabel adalah cerita yang menggambarkan watak dan budi manusia yang pelakunya diperankan oleh binatang (berisi pendidikan moral dan budi pekerti): kancil merupakan tokoh utama dalam fabel Indonesia yang berperan sebagai manusia yang cerdik.  Dalam sastra Inggris, fabel yang sangat masyhur yaitu The Animal Farms, karya novelis terkemuka bernama George Orwell. Dari cerita-cerita fabel, gaya bahasa metafora dapat dibangun sehingga muncullah klasifikasi gaya bahasa metafora berdasarkan fabel. Di dalam Alkitab terdapat gaya bahasa metafora berdasarkan fabel dalam Bilangan 22:28 – 30 yang melukiskan tentang seekor keledai betina dapat berbicara dengan Bileam: “Ketika itu TUHAN membuka mulut keledai itu, sehingga ia berkata kepada Bileam: ‘Apakah yang kulakukan kepadamu, sampai engkau memukul aku tiga kali?’  Jawab Bileam kepada keledai itu: ‘Karena engkau mempermain-mainkan aku; seandainya ada pedang di tanganku, tentulah engkau kubunuh sekarang.’ Tetapi keledai itu berkata kepada Bileam: ‘Bukankah aku ini keledaimu yang kautunggangi selama hidupmu sampai sekarang? Pernahkah aku berbuat demikian kepadamu?’”

Metafora berdasarkan perumpamaan

Perumpamaan atau parabel adalah cerita pendek yang menggambarkan sikap moral dan keagamaan dengan menggunakan ibarat dan perbandingan. Dalam Alkitab terdapat banyak gaya bahasa metafora berdasarkan perumpamaan. Contoh:

(a) “Anak domba betina” yang dikisahkan dalam 2 Samuel 12:1-14 (baca juga ayat 15-25), adalah metafora berdasarkan perumpamaan yang dimaksudkan untuk menggiring raja Daud kepada suatu perasaan bersalahnya dengan menaruh suatu kasus yang paralel di hadapannya.

(b) “ Yesaya 11:6-8 dan 65:25” adalah metafora berdasarkan perumpamaan untuk melukiskan tentang “suasana kehidupan dalam ruang dan waktu yang disebut ‘langit yang baru dan bumi yang baru’, di bawah pemerintahan Raja Damai yang akan datang”.

(c)   Di dalam Perjanjian Baru dapat kita jumpai metafora berdasarkan perumpamaan antara lain: “Perumpamaan tentang seorang penabur”; “Perumpamaan tentang lalang di antara gandum”; “Perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi”; “Perumpamaan tentang harta terpendam dan mutiara yang berharga”; “Perumpamaan tentang pukat”; “Perumpamaan tentang domba yang hilang”; “Perumpamaan tentang pengampunan”, dan lain-lain.

Semoga uraian tentang majas metafora sebagaimana dikemukakan di atas ini bermanfaat bagi para pembaca Alkitab.    ***

Minggu, 22 April 2018

Marginalia Tentang Spiritualitas Ugahari


Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti



Timor Express edisi Minggu, 14 Januari 2018 dan edisi Minggu, 4 Februari 2018 pada halaman 11 memuat tulisan yang judulnya sama: “Bersama Kristus, Kita Hidupi Spiritualitas Ugahari demi Keadilan Terhadap Sesama dan Alam Lingkungan”. Artikel edisi Minggu, 14 Januari 2018 ditulis oleh Pdt. Dr. Mesakh Dethan dan artikel edisi Minggu, 4 Februari 2018 ditulis [sebagai sebuah rangkuman] oleh Pdt. Mery Kolimon. Berkenaan dengan artikel dua tokoh GMIT ini saya [penatua Jemaat Gunung Sinai Naikolan – denominasi GMIT] ingin mengemukakan beberapa catatan untuk dipertimbangkan.

Kamis, 29 Maret 2018

Kebangkitan Vibrasi Kepeloporan Soeharto Di Pentas Politik Nasional Indonesia


Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti

 
Tommy Soeharto (image: jawapos)

Catatan pengantar
Dalam buku saya berjudul, Vibrasi Sejarah Pergerakan Kemerdekaan dan Vibrasi Eksistensi Bangsa Indonesia (B You Publishing Surabaya 2010) telah saya analisis vibrasi kepeloporan enam Presiden RI dan satu wakil Presiden, yaitu: vibrasi kepeloporan Presiden Soekarno, vibrasi kepeloporan Wakil Presiden Mohammad Hatta, vibrasi kepeloporan Presiden Soeharto, vibrasi kepeloporan Presiden B. J. Habibie, vibrasi kepeloporan Presiden Abdurrahman Wahid, vibrasi kepeloporan Presiden Megawati Soekarnoputri, dan vibrasi kepeloporan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Vibrasi kepeloporan Presiden Joko Widodo belum dibukukan, tetapi sudah dipublikasikan di blog www.bianglalahayyom.blogspot.co.id  edisi 03 Juli 2014.

Jumat, 16 Maret 2018

Dinamika Vibrasi Politik Tahun 2018 -- 2019



 (Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti)

Catatan pendahuluan
Berkenaan dengan judul tulisan ini, “Dinamika Vibrasi Politik Tahun  2018 – 2019”, saya ingin mengutip kembali pokok-pokok penting yang telah saya kemukakan di blog ini dalam tulisan tertanggal: Kamis, 01 September 2016.

Pertama, Vibrasi kepeloporan Presiden Joko Widodo dan vibrasi kepeloporan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam kurun waktu 2016 sampai tahun 2019 tetap seirama demi kepentingan rakyat, bangsa dan negara.

Kedua, Vibrasi kepeloporan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kala dalam kurun waktu 2016 – 2018, skor vibrasinya = 80/90 dengan simbol vibrasi [↗] yang menunjukkan kecenderungan positif; dan dalam tahun 2019—khusus untuk vibrasi kepeloporan Presiden Joko Widodo—skor  vibrasi kepeloporannya = 90/100 dengan simbol vibrasi [↗].

Rabu, 14 Maret 2018

Sekali lagi tentang Vibrasi Kepeloporan Joko Widodo dan Prabowo Subianto



Sebagai Calon Presiden RI Masa Bakti 2019 – 2024 

(Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti)



VIBRASI KEPELOPORAN Joko Widodo dan Prabowo Subianto  telah saya analisis pada tahun 2014 yang lalu berdasarkan teori vibrasi yang saya kembangkan, ketika kedua tokoh bangsa ini maju sebagai calon Presiden RI pada tahun 2014. Hasil analisisnya telah dimuat di blog ini: www.bianglalahayyom.blogspot.co.id  edisi Kamis, 03 Juli 2014, enam hari sebelum pemilihan Presiden dilakukan pada 9 Juli 2014. Itulah sebabnya tulisan ini saya beri judul, “Sekali lagi tentang Vibrasi Kepeloporan Joko Widodo dan Prabowo Subianto sebagai Calon Presiden RI Masa Bakti 2019 – 2024”, karena nama kedua tokoh bangsa ini paling dominan disebut-sebut dalam pemberitaan media cetak maupun media elektronik.

Senin, 12 Maret 2018

Ris Therik, Virga Belan, Dan Gerson Poyk



(Tiga Sastrawan Pemula asal Daerah NTT)


Oleh: A.G. Hadzarmawit Netti




Catatan pendahuluan
Ris Therik, Virga Belan dan Gerson Poyk adalah  tiga sastrawan asal daerah Nusa Tenggara Timur yang tampil di pentas sastra Indonesia di Jakarta pada kurun waktu yang sama, yaitu tahun 1961 – 1964. Sebelum terkenal sebagai sastrawan, mereka berkecimpung di bidang jurnalistik, sebagai wartawan; kecuali Gerson Poyk yang sebelumnya sebagai guru, kemudian menjadi wartawan, setelah itu sastrawan. Mengenai Gerson Poyk, jejak langkah kesastrawanannya telah direkam oleh Yohanes Sehandi dalam buku, Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT (2012) dan Sastra Indonesia Warna Daerah NTT (2015). Dengan demikian, dalam tulisan ini jejak langkah kesastrawanan Ris Therik dan Virga Belan lebih banyak ditinjau, sedangkan berkenaan  Gerson Poyk, saya akan berikan beberapa catatan tambahan saja.