Deskripsi

“Lengkung SPEKTRUM FAJAR SENJA aneka warna KASIH SETIA ALLAH yang mengayomi JEJAK LANGKAH KEHIDUPAN bertanda nama 'BELUM'!"

Kamis, 15 September 2011

KANDIDAT DAN AMBISI

“Kandidat” dan “Ambisi” adalah dua kata yang memiliki arti yang saling memberi isi dan terkait erat: inheren; melekat; tidak dapat diceraikan. “Kandidat”, diserap dari bahasa Inggris “candidate”, berasal dari bahasa Latin candidatus, asal kata: candidus, artinya (1)  “putih” (arti kias, “tiada noda, tiada cela, tiada kesalahan, tiada kecemaran); (2) “adil, bijaksana, jujur; baik/cukup baik”; (3) “tidak usah diragukan; bebas dari skandal; bersih”; dan (4) “tulus, jujur, terus terang, tidak dibuat-buat”. Kata Latin candidatus artinya “orang yang mencari, melamar, atau mencalonkan diri untuk suatu pengangkatan jabatan, kedudukan, atau kehormatan”; “orang yang bercita-cita atau mencari jabatan, kedudukan dengan keinginan/hasrat yang besar”. Berdasarkan medan makna kata candidatus inilah, maka  kata candidatus  juga berarti: “berpakaian putih seperti seorang calon pejabat pemerintah Roma”.

Hē archē


Setelah membaca opini Esra  Alfred Soru, “Telaah Teologis Atas Buku ALLAH DALAM ALKITAB & ALQURAN  karangan Frans Donald (FD) Yesus Bukan Allah?” yang diterbitkan secara bersambung di Harian Pagi Timor Express (Timex) edisi Senin, 13 November 2006 sampai Jumat, 17 November 2006, saya merasa tertarik untuk memberikan  catatan pinggir terhadap beberapa konsepsi teologis yang Esra Alfred Soru kemukakan dalam berpolemik dengan Frans Donald. Tujuan yang ingin dicapai melalui catatan pinggir (marginalia) ini bukan ‘siapa yang kalah dan siapa yang menang’, melainkan ‘kebenaran’. Dan berkenaan dengan kebenaran yang ingin dicapai, kaidahnya tidak bisa diukur dengan rumusan kebenaran dalam ilmu-ilmu yang instruksional dan doctrinal, melainkan dengan rumusan kebenaran deskriptif yang dapat dipertanggungjawabkan  secara teologis-alkitabiah yang mencerminkan kebenaran secara komprehensif, bukan secara parsial. Untuk itu, dalam marginalia ini saya hanya akan menyiasati  apa gerangan yang dimaksudkan dengan hē archē dalam Wahyu 3:14.

FILIPI 2:6-7


DALAM opini “Yesus Bukan Allah (3)” (Timex, 15 November 2006), Esra Alfred Soru (selanjutnya akan saya sapa, Esra) menguraikan Filipi 2:6 dalam hubungannya dengan ayat 7 secara panjang-lebar. Namun ada beberapa hal yang harus ditinjau lebih dalam. Sebelum meninjau beberapa hal yang saya maksudkan itu, terlebih dahulu transkripsi teks Gerika Filipi 2:6,7 saya kutip demi kepentingan analisis.

Rabu, 07 September 2011

STUKTUR LEKSIKAL


Yang dimaksudkan dengan struktur leksikal adalah “bermacam-macam pertalian semantik yang terdapat dalam kata”. Di bawah ini saya akan berikan sedikit penjelasan seputar tiga istilah, sesuai dengan contoh-contoh yang Esra uraikan dalam opini bagian pertama (Timex, 23-1-2007), teristimewa berkenaan dengan penjelasan Hasan Sutanto yang Esra kutip: “Dalam Alkitab sering terdapat kata-kata yang sama, tetapi mengandung pengertian yang berlainan (Polyonymy – bahasa Inggris). Ini berarti satu kata mungkin mengandung banyak arti. Sebaliknya, sering juga terdapat kata-kata berlainan tetapi menunjukkan pengertian yang sama/mirip. (Homonymy – bahasa Inggris)…dalam kasus-kasus demikian, konteks berperanan menentukan artinya (Hermeneutik: Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab. SAAT. 2001:214).  Benarkah apa yang dikatakan oleh Hasan Sutanto sebagaimana dikutip di atas ini?  Perhatikan uraian di bawah ini.

Prōtotokos & chokmah


Opini Esra Alfred Soru (selanjutnya akan saya sapa, Esra) berjudul “Yesus bukan Allah?”, yang merupakan telaah teologis atas buku Allah Dalam Alkitab & Alquran karangan Frans Donald (Timor Express, Senin, 13 November 2006), mengundang perhatian saya untuk menyiasati dua gagasan lagi, yaitu prōtotokos dan chokmah.